Bojonegoro, 7/10/2026 - Dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan dan memperkuat pilar ekonomi daerah, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro resmi mengukuhkan pengurus Asosiasi Peternak Ayam Pedaging dan Asosiasi Peternak Ayam Petelur. Acara pengukuhan ini dilangsungkan pada Rabu, 07 Oktober 2026, bertempat di Ruang Angling Dharmo, Gedung Pemkab Bojonegoro.
Pengukuhan dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Ibu Nurul Azizah. Setelah prosesi pengukuhan selesai, acara langsung dilanjutkan dengan sesi pembinaan per-unggas an bagi para peternak yang hadir.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan dalam laporannya menyampaikan bahwa forum ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta. Tujuannya adalah untuk menyediakan wadah komunikasi dan koordinasi yang solid antara peternak, perusahaan kemitraan, dan pemerintah. "Kita ingin membangun ekosistem usaha perunggasan yang sehat, produktif, dan berkelanjutan," jelasnya.
Potensi peternakan ayam di Bojonegoro tercatat sangat masif. Berdasarkan data per Juni 2026, populasi ayam ras pedaging di Bojonegoro mencapai 3.345.721 ekor, sementara populasi ayam ras petelur mencapai 658.353 ekor. Tingginya populasi ini diyakini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan.
Sektor peternakan ayam pedaging (broiler) telah memberikan dampak perputaran ekonomi yang luar biasa bagi Bojonegoro. Ketua Asosiasi Peternak Ayam Pedaging, Bapak Syamsul, memaparkan bahwa saat ini terdapat sekitar 219 kandang kemitraan yang beroperasi.
"Perputaran modal yang ada di Bojonegoro dari sektor ayam pedaging mencapai Rp 259,15 miliar per satu periode panen. Kami juga mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar," papar Bapak Syamsul.
Tingginya serapan tenaga kerja ini sejalan dengan fokus pemerintah daerah dalam mengurangi angka pengangguran.
Sementara itu, dari sektor ayam petelur, para peternak saat ini tengah menghadapi dinamika harga pasar yang menantang, di mana harga jual telur di tingkat kandang sekitar Rp 21.000 terkadang masih berada di bawah Harga Pokok Produksi. Namun, peternak tetap optimis karena Bojonegoro memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yakni ketersediaan bahan baku pakan lokal.
Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur, Bapak Santoso, menjelaskan bahwa pakan menyumbang 75% dari biaya operasional ayam petelur. "Bojonegoro ini lumbung pangan. Kita menang dua langkah dibanding daerah luar karena sumber pakan lokal seperti jagung dan bekatul sangat melimpah di sini," ungkapnya.
Untuk mendukung kestabilan harga pakan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Peternakan bekerja sama dengan Bulog juga telah memfasilitasi ketersediaan Jagung SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dengan harga terjangkau. Hingga saat ini, sebanyak 468,9 ton jagung SPHP telah disalurkan khusus kepada para peternak ayam petelur.
Wakil Bupati Bojonegoro, Ibu Nurul Azizah, yang hadir, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif kemandirian para peternak dalam membentuk wadah asosiasi ini. Beliau menekankan betapa pentingnya peran peternak dalam menutupi defisit kebutuhan pangan daerah.
"Pada tahun 2022 lalu, dengan jumlah penduduk 1,3 juta jiwa, kebutuhan telur kita mencapai 8.000 ton per tahun, sementara produksi lokal baru 1.000 ton. Namun berkat kerja keras peternak dan program GAYATRI dari pemerintah, per Agustus kemarin defisit kita sudah jauh menurun hingga tersisa 3.000 ton saja," terang Ibu Nurul Azizah.
Dengan terbentuknya asosiasi ini serta dilanjutkannya agenda pembinaan per-unggas an, diharapkan peternak ayam di Bojonegoro baik pedaging maupun petelur dapat semakin berdaya saing, memiliki daya tawar yang baik, dan mampu menjadikan Bojonegoro sebagai salah satu sentra per-unggas an terbesar dan mandiri di Jawa Timur.
|
|
|
|
|
Sangat Puas
100 % |
Puas
0 % |
Cukup Puas
0 % |
Tidak Puas
0 % |