Bojonegoro - Semangat “Tilik Dulur, Nyambung Roso, Monggo Nandur” mewarnai kegiatan Dialog Interaktif “Medhayoh” Edisi IX di Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru, Rabu (12/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah turun langsung menyapa warga, meninjau potensi desa, sekaligus menyerap berbagai aspirasi masyarakat.
Dalam rangkaian medhayoh dengan tema "Pembangunan Infrastruktur Pertanian Guna Meningkatkan Potensi Wisata Lokal", Bupati dan Wakil Bupati mengunjungi sejumlah titik yang menggambarkan potensi desa, mulai dari Pondok Pesantren Darul Istiqomah Woro, panen tembakau bersama petani, Embung Cengkir, hingga greenhouse melon.
​Dari peninjauan tersebut, Bupati Setyo Wahono menyoroti pentingnya penguatan sektor pertanian yang menjadi tumpuan utama warga Kepohbaru, khususnya pada komoditas tembakau, padi, dan hortikultura. Menurutnya, keberlanjutan potensi ini sangat bergantung pada keandalan infrastruktur pengairan.
“Mayoritas warga Kepohbaru bertani, dan komoditas utamanya adalah tembakau. Karena itu, ketersediaan air menjadi hal yang sangat krusial. Saya minta pemerintah desa tidak ragu mengusulkan pembangunan embung sesuai kebutuhan wilayah, yang nantinya akan kita verifikasi dan kaji kelayakannya,” ujar Bupati.
Menjawab kekhawatiran warga terkait Embung Cengkir yang mulai dangkal, Pemkab Bojonegoro berupaya merealisasikan normalisasi tahun ini melalui koordinasi dengan BBWS. Langkah ini juga akan didukung solusi teknis dari perangkat daerah untuk menjaga keutuhan tanggul serta menekan laju penguapan air saat kemarau.
Tak hanya fokus pada infrastruktur pengairan, ruang dialog bersama pemerintah desa, kelompok tani, dan tokoh masyarakat ini juga dimanfaatkan warga untuk menyampaikan aspirasi di luar sektor pertanian, seperti penguatan UMKM, bantuan peternakan, Program Gayatri, hingga sektor pendidikan.
Merespons hal tersebut, Bupati menegaskan pentingnya pengawasan ketat agar seluruh bantuan dan program prioritas Pemkab termasuk program beasiswa satu desa 10 sarjana dapat berjalan tepat sasaran.
“Semua program harus dikawal, mulai dari bantuan ternak hingga Program Gayatri. Begitu pula sektor pendidikan, program satu desa 10 sarjana terus kita jalankan, dan usulan penambahan kuota akan dikaji sesuai kemampuan anggaran daerah,” tegasnya.
Melalui ruang diskusi yang hangat ini, Bupati menegaskan bahwa kegiatan Medhayoh pada hakikatnya adalah sarana pemerintah daerah untuk hadir dan mencari solusi bersama masyarakat.
“Saya ingin mendengar langsung masukan, saran, maupun keluhan dari panjenengan. Ini menjadi bahan bagi kami untuk menghadirkan solusi konkret yang sesuai dengan regulasi,” pungkas Setyo Wahono.
|
|
|
|
|
Sangat Puas
100 % |
Puas
0 % |
Cukup Puas
0 % |
Tidak Puas
0 % |