BOJONEGORO – Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, secara resmi membuka kegiatan Pelatihan Petugas Pendataan Lengkap Sensus Ekonomi 2026 (SE 2026) Gelombang 4 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro di Hotel Dewarna. Acara pembukaan ini ditandai dengan pemukulan gong, penyematan rompi identitas kepada perwakilan petugas, serta penandatanganan komitmen bersama demi suksesnya agenda nasional tersebut di wilayah Kabupaten Bojonegoro.
Dalam sambutan dan arahannya, Wakil Bupati menyampaikan kesiapan penuh jajaran pemerintah daerah dalam mendukung Sensus Ekonomi yang digelar satu dekade sekali ini. Sensus ini diposisikan sebagai instrumen makro yang krusial untuk menyuguhkan data pertumbuhan ekonomi masyarakat secara nasional maupun daerah dalam jangka waktu 10 tahun ke depan.
Dukungan konkret dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro diwujudkan melalui penerbitan Surat Edaran resmi dari Bupati kepada seluruh jajaran OPD, camat, lurah, hingga kepala desa. Selain itu, jajaran pimpinan daerah—termasuk Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, dan Forkopimda—berkomitmen untuk menjadi pihak pertama yang didata oleh petugas pada hari pertama pelaksanaan lapangan sebagai bentuk keteladanan (role model) bagi masyarakat.
Sebelumnya, Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro dalam laporan kesiapan operasionalnya memaparkan bahwa sebanyak 1.479 petugas dikerahkan dalam SE 2026 di wilayah ini. Jumlah tersebut terdiri dari 1.306 petugas pencacah lapangan dan 173 pengawas lapangan yang tersebar di 28 kecamatan.
Pelatihan ini dilaksanakan secara intensif dalam 4 gelombang yang mencakup 49 kelas di tiga Pusat Pelatihan, yaitu Hotel Eastern, Hotel Aston, dan Hotel Dewarna, guna menjamin standarisasi kompetensi dan profesionalisme pengumpulan data. Adapun tahapan krusial pendataan lapangan secara komprehensif, masif, dan door-to-door dijadwalkan berlangsung dari tanggal 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.
Melalui momentum ini, Wakil Bupati juga memaparkan pentingnya melihat dinamika ekonomi makro Bojonegoro secara utuh. Saat ini, kekuatan ekonomi non-migas daerah tumbuh sangat impresif sebesar 7,34%. Pertumbuhan positif tersebut ditopang kuat oleh sektor pertanian yang melonjak sebesar 14,2%, yang menempatkan Bojonegoro sebagai produsen padi nomor dua terbesar di Jawa Timur dengan kenaikan produksi mencapai 886 ribu ton. Kondisi tersebut juga didukung oleh pertumbuhan sektor makanan-minuman sebesar 11,37%, serta sektor jasa dan kesehatan. Secara akumulatif, komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bojonegoro sukses menempati peringkat ke-9 dalam kontribusi pertumbuhan ekonomi terhadap Provinsi Jawa Timur.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro optimis bahwa melalui sinergi kuat yang telah terbangun bersama BPS, jajaran Forkopimda, seluruh OPD, hingga tingkat kecamatan dan desa, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 ini akan berjalan sukses. Diharapkan seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha dapat menerima petugas dengan baik serta memberikan data yang jujur. Akurasi data yang dihasilkan nantinya akan menjadi landasan utama bagi Pemkab Bojonegoro dalam menyusun perencanaan pembangunan daerah yang lebih inklusif, tepat sasaran, dan membawa kemakmuran bagi seluruh warga.
|
|
|
|
|
Sangat Puas
100 % |
Puas
0 % |
Cukup Puas
0 % |
Tidak Puas
0 % |