Loading
X
Selamat Datang di Portal Resmi Bagian Humas & Protokol Bojonegoro © 2014
Pemkab dan UPN Jogja Tandatangani MoU Pengembangan Geo Heritage Perminyakan

Yogyakarta, Penandatanganan Memorium of Undestanding (MoU) antara Bupati Bojonegoro, Drs. H. Suyoto, MSi dengan Rektor Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Yogyakarta, Prof. Sari Bahagiarti Kusuma Yudha secara resmi menandai kerjasama kedua belah pihak untuk pengembangan heritage bidang perminyakan di Kabupaten Bojonegoro.

Rektor UPN, Prof Sari Bahagiarti seusai penandatangan kerjasama dengan Bupati menyampaikan bahwa UPN berorientasi untuk pembangunan diseluruh wilayah Indonesia hal ini sejalan dengan visi yang diusung oleh universitas ini yakni menjadi universitas pioneer pembangunan yang dilandasi jiwa bela negara. Dalam salah satu misinya yakni menyelenggarakan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat atas dasar kemajuan iptek serta tanggungjawab social demi kepentingan masyarakat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.   Menurut Sari Bahagiarti, UPN saat ini memiliki 5 fakultas yakni fakultas teknologi mineral, teknologi industry, fakultas pertanian, ekonomi dan yang termuda adalah fakultas social dan politik. Dengan program study sebanyak 23 yang terdiri dari 15 strata satu, 1 diploma, 6 pasca sarjana dan tahun ini dimungkinkan ada S3. Rektor UPN menyampaikan implementasi kerjasama dengan UPN difokuskan pada pengembangan geo heritage dibidang perminyakan di Kabupaten Bojonegoro. Menurutnya kerjasama ini sangat tepat, apalagi Bojonegoro memiliki potensi geo heritage perminyakan dalam segala bentuk mulai tradisional dan modern. 

Sementara itu Bupati Bojonegoro yang lebih akrab dengan panggilan Kang Yoto ini menyampaikan ada kesamaan antara UPN dan Bojonegoro yakni ideology membangun . Membangun dalam hal ini adalah menurunnya angka kemiskinan, meningkatnya pendapatan tunai dan yang ketiga asalah sutainable development. Bupati menjelaskan Bojonegoro memiliki lapangan minyak diantaranya Blok Cepu, Sukowati, Nona, Blora dan Blok Tiung Biru yang dikelola secara modern. Tidak hanya itu, Bojonegoropun memiliki sumur tua yang merupakan peninggalan penjajah belanda yang terletak di wilayah kawengan, wonocolo Kecamatan Kedewan. Masih dalam keterangannya Bupati menyampaikan dulunya daerah Bojonegoro merupakan daerah miskin. Namun dengan ditemukannya minyak membuat euphoria masyakat harus bisa dikendalikan. Pemahaman masyarakat bahwa daerah minyak adalah daerah kaya harus diarahkan. Karena meskipun kaya minyak jika tidak dikelola tepat maka akan mengalami nasib yang memprihatinkan. Oleh karenanya, sebagai pimpinan yang dipercaya oleh masyarakat Bojonegoro uang dari minyak harus dikelola dengan tepat salah satunya adalah dana abadi migas. Diantaranya diperuntukkan untuk pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Bojonegoro. Pembangunan infrastruktur yang relevan untuk mendukung peningkatan produk ekonomi dan kebijakan fiscal.

Masih dalam kesempatan ini, Bupati menyampaikan DBH itu tidak pernah tetap bisa naik bisa turun memperhitungkan harga minyak dunia. Berkaca dari pengalaman yang menimpa Bojonegoro akibat berpaku pada DBH nyaris saja kita mengalami kolaps dan gagal bayar. Untuk mengatasi hal ini maka dalam pengelolaan keuangan tidak 100 persen memasang angka DBH secara utuh. Hal serupa juga dialami Negara kita tercinta dimana naik turunnya minyak berpengaruh pada keuangan dan pertumbuhan ekonomi kita saat ini.Dari hal inilah maka Pemkab Bojonegoro telah menyiapkan beberapa skenaria agar terhindar dari kutukan sumber daya migas. Salah satunya adalah dengan membuat pelatihan bagi tenaga terampil di Bojonegoro khususnya adalah untuk lulusan sekolah menengah atas sederajat. Sehingga 12 ribu anak Bojonegoro akan memiliki keterampilan setiap tahunnya. Pelatihan ini memanfaatkan dari dana minyak. Dengan scenario yakni dana dari sector minyak ini diinvestasikan kemudia hanya bunganya saja yang boleh diambil salah satunya untuk memberikan bekal kecakapan hidup untuk generasi Bojonegoro.