Loading
X
Selamat Datang di Portal Resmi Bagian Humas & Protokol Bojonegoro © 2014
Penyakit dan Obat Untuk Masalah di Bojonegoro dan Indonesia

Bojonegoro, Anda pasti pernah mendengar kata wabah atau penyakit yang menyebar luas, tidak hanya secara medis ternyata penyakit ini bisa juga menghinggapi psikologis manusia. Yang lebih mengkhawatirkan adalah apabila ini melanda sebagian besar masyarakat. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya pengobatan dan penyembuhan yang harus dilakukan. Mungkin ilustrasi ini bisa menggambarkan tentang penyakit-penyakit yang melanda disebagian besar masyarakat kita.

Bupati Bojonegoro yang akrab dengan panggilan Kang Yoto menjelaskan penyakit orang Bojonegoro adalah iri, selain itu penyakitnya adalah tidak mau melihat orang lain sukses. Tidak hanya itu penyakit lainnya adalah suka rasan-rasan. Daripada belajar mereka lebih suka untuk rasan rasan. Selain itu banyak diantara kita yang takut berproses. Kita lupa bahwasannya hidup kita sejak kecil didik menikmati hidup bukan bagaimana menghadapi seluruh kesulitanhidup. Penyakit lainnya adalah tidak bisa menghadapi masa depan yang panjang, ini merupakan buah dari kultur budaya dan konflik yang kita hadapi selama ini. Sejak jaman dahulu yakni sejarah kita mulai penjajahan, perpecahan dan konflik antara demak dan pajang lalu mataram. Konflik dengan penjajah dan konflik dengan antar pribumi. Menurut Bupati, hal itu sudah saatnya kita lupakan dan kita tinggalkan. Jawaban untuk semua itu adalah kita harus menjadi orang yang cerdas dan berkarater. Dan karakter itu adalah pancasila, para pendiri bangsa kita sudah paham dengan kultur dan karakter kita, oleh karenanyalah dicetuskan pancasila. Penyakit sudah jelas dan terapinya pun sudah jelas yakni pancasila. Orang-orang indonesia ini mengaku beragama namun lupa bertuhan, kita merendakan kemanusian maka dibuatkan statmen yakni “ kemanusian yang adil dan beradab”.

Para pendiri bangsa kita, lanjut Bupati, paling sulit bersatu. Maka dibuatkan sila yang ketiga maka dibuat sila ke tiga dan keempat. Dimana permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat, bukan permusyawaratan yang dipimpin oleh nafsu. Rakyat Indonesia ini sulit menegakkan keadilan sosial. Maka pendiri bangsa kita membuat sila kelima dalam pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Pendidikan itu harus membangun karakter yaitu karakter pancasila dan pancasila itu telah ada namun mulai dilupakan dan hanya dianggap sebagai lambang negara saja. Pancasila diambil dari sumber-sumber kultural dan seluruh saripati agama yang ada di Indonesia. Maka apabila hari ini kita memperingati Hari Otonomi Daerah dan Hari Pendidikan Nasional maka itu mengingatkan kita semua bahwa kitalah yang bertanggungjawab atas masa depan Bojonegoro kita ini. Mungkin kita bisa mengatakan 80 persen adalah undang-undang, namun mari kita mengatakan bahwa 100 persen anak-anak kita. Masa depan Bojonegoro tergantung kita bukan siapa-siapa. Mari kita mengatakan telah menerima anugerah dan mandat dari Tuhan dan seluruh rakyat Indonesia. Kita sanggup dan bisa menyelesaikan masalah ini, kita bisa melaju dan semangat lokal yang kita kumandangkan membangun bojonegoro matoh bisa kita wujudkan bersama. Bupati juga berpesan kepada seluruh generasi Bojonegoro untuk rajin dan giat belajar karena tidak ada yang bisa menolong diri kalian kecuali diri kalian masing-masing. Generasi Bojonegoro harus memiliki kecerdasakan intelektual dan emosional yang didukung dengan memiliki karakter pancasila