Loading
X
Selamat Datang di Portal Resmi Bagian Humas & Protokol Bojonegoro © 2014
Bupati Kenalkan Bojonegoro di Kalangan Akademisi

Sebelum euphoria minyak ditemukan di Kabupaten Bojonegoro, banyak orang dan kalangan yang bahkan sama sekali tidak mengenal wilayah ini. Kini ketika minyak ditemukan maka Bojonegoro seperti memiliki magnet tersendiri. Menurut Bupati Bojonegoro di masa pendudukan beland merupakan daerah miskin luar biasa. Hal ini membuat penulis belanda “ Panders” dalam bukunya menyebut bahwa kemiskinan luar biasa melanda saat itu. 

Dihadapan ratusan dosen dari berbagai Universtitas di Yogyakarta dan Jawa Tengah , yang menjadi peserta seminar nasional dengan tema tata kelola pengembangan Indonesia menuju masa depan yang digelar di Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran” Yogyakarta, Jumat (17/4) lalu  Bupati Bojonegoro mengenalkan Kabupaten Bojonegoro. Mulai dari potensi yang dimiliki dan sejarah panjang Bojonegoro sebagai daerah termiskin dipula jawa. 

Dari daerah miskin inilah maka peninggalam kemiskinan masih bisa dirasakan sampai saat ini, salah satunya adalah polapikir dan pemahaman yang sudah kadung mengakar dimasyarakat Bojonegoro dari masa ke masa. Mental ini tidak hanya dialami oleh masyarakat namun juga menyentuh dikalangan birokrat. Bojonegoro identik dengan daerah miskin, infrastruktur rusak, mental peminta, langganan banjir dan lain sebagainya. Sehingga tugas awal untuk membangun Bojonegoro adalah bagaimana memperbaiki mental mulai dari masyarakat dan birokrat. Menurut Bupati hakekat pemerintahan adalah pemerintah dibuat karena adanya masalah public yang harus diselesaikan oleh warga Negara baik secara personal maupun kelompok. Oleh karenanya pemerintah harus hadir dan menjadi bagian dari solusi public itu. Kehadiran inilah yang disebut dengan pemerintahan yang good dan clean governance. Bupati menyebutkan untuk menyelesaikan masalah public ini penyelesainnya dimulai dari level visi, strategi, tata kelola, cultur dan spiritual. Di Kabupaten Bojonegoro karenanya mengenal istilah 4 “ D” yakni direct (langsung), Dialoq ( perdebatan tak menyelesaikan masalah namun dengan dialoq inilah masalah akan dipecahkan secara bersama ). D selanjutnya adalah  Distribute dan Digital. Jika pemerintah memilih kecenderungan menyelesaikan masalah dengan pendekatan operasional, maka Pemkab Bojonegoro berbeda yakni pada visi, strategi, tata kelola, cultural dan spiritual. Pemerintah dan Negara tidak sekedar bertugas melindungi, melayani dan regulasi akan tetapi harus mampu berperan pula sebagai pemberdaya dan pencerah bagi masyarakat.

Tata kelola pemerintahan Bojonegoro berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kepuasan masyarakat serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Yang didalamnya menyentuh pada bidang social, ekonomi, lingkungan hidup, kemandirian fiscal, good and clean governance seta kepemimpinan yang transformative. Dengan ditemukannya sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi tidak serta merta membuat Bojonegoro latah dengan pembangunan yang berorientasi pada infrastruktur megah dan mewah. Namun justru mengalokasikan pada sisi peningkatan kemampuan sumber daya manusia di Bojonegoro. Bupati menuturkan penerimaan sector minyak Bojonegoro tidak dihamburkan begitu saja, namun dikelola dalam bentuk dana abadi migas. Untuk peningkatan kemampuan masyarakat Bojonegoro. Dicontohkan bahwa saat ini Pemkab menyekolahkan beberapa dokter spesialis diluar negeri dan Jakarta. Demikian pula bagi mahasiswa dan dosen yang menghendaki kuliah diluar negeri bisa meminjam dari dana sector migas ini. Dana dikembalikan setelah mereka bekerja dan nol bunga. Bila tidak bisamendapatkan pekerjaan maka dana yang dipinjam tak harus dikembalikan. Namun semua itu dengan catatan yakni memiliki akta kelahiran Bojonegoro.